Indonesia Punya Sejarah Transisi Presiden yang Kurang Baik
KPU
Dengan proses yang mulus tersebut, diharapkan proses ke depannya atau masa transisi juga berjalan baik sehingga dapat semakin memperkuat ekonomi Indonesia ke depan.
Menurut Chairul Tanjung, Indonesia mempunyai catatan sejarah peralihan atau masa transisi yang kurang baik.
"Dari era Presiden Soekarno ke Soeharto, dari Soeharto ke Habibie, dari Habibie ke Gusdur, dari Gusdur ke Megawati dan dari Megawati ke SBY, selalu saja ada masalah. Tapi baru di era sekarang ini, sebelum pengumuman (pilpres) saja sudah bisa duduk sama-sama saat buka puasa," jelasnya di Jakarta, Rabu (23/7/2014).
Menteri Keuangan, Chatib Basri pun memberi ucapan selamat kepada pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang telah berhasil memenangkan pilpres 2014, mengalahkan pasangan lainnya Prabowo subianto dan Hatta Rajasa.
"Ini sangat penting dan akan menjadi fondasi proses transisi yang berjalan dengan damai. Kalau damai, kita tenang jadi tinggal ngurusin fundamental ekonominya saja," terangnya.
Kondisi ini, sambung dia, direspon positif oleh pelaku pasar sehingga nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami penguatan di kisaran Rp 11.400-Rp 11.500.
"Penguatannya 100 basis poin lebih. Setiap apresiasi Rp 100 per dolar AS, maka defisit anggaran turun Rp 2,6 triliun. Pasar juga merespon positif penerbitan surat utang kita," jelasnya.
Meski begitu, Chatib mengatakan, dengan pengumuman hasil perhitungan suara dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) menandakan Indonesia sudah mempunyai Presiden dan Wakil Presiden baru.
"Kita punya Presiden dan Wapres baru itu kemenangan besar, tapi nggak cukup hanya itu, mesti ada reformasi lanjutan dengan kebijakan tepat," pungkasnya. (Fik/Gdn)
follow me @fanydersi_soniq
Tidak ada komentar:
Posting Komentar